Jarvis ala google di masa depan
“JARVIS” ALA GOOGLE DI MASA DEPAN
Penulis: Eli Krisnawati
Siapa yang tidak kenal dengan tokoh superhero Iron man. Tokoh pahlawan super bernama asli Tony Stark ini memperoleh kekuatan supernya dari baju besi yang ia rancang dan bangun sendiri. Hasil dari kejeniusan otaknya yang didukung oleh harta hasil dari perusahaan keluarga miliknya. Tidak hanya didukung oleh kecerdasan dan kekayaannya, Tony Stark juga didukung oleh sesosok tokoh yang bertugas memenuhi semua kebutuhan dan permintaannya. Tokoh tersebut bernama Jarvis.
Para penikmat film Marvel tentu mengetahui Jarvis sebagai sebuah program kecerdasan artifisial yang dibuat sendiri oleh Stark. Jarvis dalam film-film Marvel ini adalah sebuah akronim akronim dari Just Another Rather Very Intelligent System, atau hanya sistem lain yang agak sangat cerdas. Meski dikatakan ‘hanya sistem lain’ namun sebenarnya Jarvis adalah sistem yang sangat cerdas yang bisa mengerjakan beberapa proyek sekaligus yang diberikan oleh Stark padanya.
Kini, kecerdasan buatan seperti Jarvis ini sudah bukan karangan semata. Sudah banyak bentuk kecerdasan buatan yang lahir dari tangan ilmuwan-ilmuwan dunia, yang dibangun dengan tujuan untuk mempermudah manusia dalam menjalankan kehidupannya. Sama seperti Jarvis. Sudah banyak teknologi canggih hasil dari pengembangan kecerdasan buatan ini yang diaplikasikan pada alat-alat yang dekat kita gunakan sehari-hari. Seperti contohnya teknologi sistem start-stop engine yang memungkinkan mesin hidup dan mati dengan sendirinya. Sistem ini sudah banyak dipasang di mobil, dimana pengendara hanya perlu menginjak pedal rem dan menekan tombol start engine. Jadi tidak perlu takut jika menghilangkan kunci mobil.
Kemudian inovasi yang dikembangkan oleh BlackBerry telah memperkenalkan sotware keamanan siber yang bernama BlackBerry Jarvis. BlackBerry mengumumkan bahwa Jarvis dapat digunakan untuk beberapa segmen industri seperti otomotif, kesehatan, dirgantara dan pertahanan. Awalnya, BlackBerry memasarkan solusi ini untuk para produsen mobil yang masih mengandalkan software untuk rantai pasokan atau supply chain yang kompleks dan rumit. Hal ini menjadi tantangan bagi para produsen mobil dan contoh kasus yang dapat diselesaikan oleh Jarvis.
Jarvis merupakan solusi pemindaian kode biner statis berbasis cloud satu-satunya yang dapat mengidentifikasi kerentanan pada software yang digunakan dalam mobil. Jarvis mampu memindai dan memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti dalam hitungan menit. Biasanya pemindaian manual memerlukan lebih banyak ahli dan akan memakan waktu yang yang jauh lebih lama.
Berdasarkan penggunaan pay-as-you-go, Jarvis disesuaikan untuk kebutuhan setiap OEM (Original Equipment Manufacturer) dan keseluruhan rantai pasokan software mereka. Setelah dimulai, produsen mobil akan memiliki akses online terhadap Jarvis dan dapat memindai sejumlah berkas biner pada setiap tahap pengembangan perangkat lunak. Hal ini termasuk kemampuan untuk mengevaluasi software yang sedang dipertimbangkan serta kemampuan untuk menilai perangkat lunak yang sudah ada dan sedang diproduksi. Setelah di-scan, tim developer memiliki akses langsung untuk melihat hasil tersebut melalui dasbor yang mudah digunakan dengan peringatan dan saran khusus. Selain penghematan biaya dan waktu, BlackBerry Jarvis membantu memastikan bahwa perangkat lunak yang digunakan untuk produksi, mematuhi standar industri seperti MISRA dan CERT dan memungkinkan OEM untuk mendefinisikan aturan khusus agar dapat memenuhi tujuan spesifik bagi perusahaan.
Dari contoh kasus tersebut dapat dikatakan bahwa teknologi semakin memanjakan manusia untuk keseharian mereka. Dalam hal ini, salah satu penyedia tekologi adalah Google yang semakin hari semakin inovatif dalam hal pengembangan, bukan hanya informasi melainkan jasa teknologi. Google yang awal penciptaannya pada 1998 hanya untuk memberikan informasi tak terbatas, sekarang sudah banyak menciptakan produk teknologi pencarian, komputasi web, perangkat lunak & perdagangan daring (Wikipedia). Julukan “Mbah” tampaknya semakin cocok disematkan untuk Google. Anak perusahaan teknologi raksasa tersebut, Deep Mind, baru saja mengumumkan bahwa mereka telah mulai membangun kecerdasan buatan yang bisa memprediksikan masa depan. Namun, jangan salah paham. Kemampuan tersebut bukan menerawang bak paranormal, melainkan menimbang beberapa keputusan dan membuat rencana untuk masa depan tanpa instruksi dari manusia. Bagi Anda, hal tersebut mungkin terdengar biasa saja, tetapi mengimajinasikan konsekuensi dari suatu aksi adalah tugas yang sulit bagi robot.
Lalu bukan hanya itu, Google juga merilis android terbarukan yang bernama Fuchsia OS, proyek sistem operasi eksperimental Google untuk perangkat mobile, kembali muncul ke permukaan. Kali ini, sebuah file "Readme" di situs developer Google menjelaskan bahwa aplikasi Android bakal bisa dibuka dan dijalankan di perangkat berbasis Fuchsia OS. Perusahaan yang berbasis di Mountain View itu disinyalir bakal mengembangkan ART (Android Runtime) yang dirancang khusus untuk menjalankan aplikasi Android di sistem Fuchsia. ART sejatinya merupakan suatu perangkat lunak untuk para pengembang guna membuat aplikasi bikinannya berjalan di perangkat berbasis Android. Fuchsia Bakal Menggantikan Android, Ini Jawaban Google Nantinya, pengguna yang memiliki perangkat Fuchsia OS, seperti ponsel, laptop, dan perangkat pintar lain, diprediksi akan bisa menginstal aplikasi Android berkat ART tersebut. Belum jelas bagaimana aplikasi Android tersebut bakal berjalan di perangkat berbasis Fuchsia OS, apakah melalui emulator, virtual machine, atau interface lain. Namun, kompatibilitas aplikasi Android yang bisa dijalankan di Fuchsia OS seharusnya bakal mempermudah proses transisi dari Android ke sistem operasi mendatang tersebut. Meski begitu, Fuchsia OS sendiri nasibnya masih menggantung dan tidak diketahui secara pasti kapan calon penerus Android ini bakal dikomersilkan. Dirangkum dari KompasTekno dari to Google, Senin (7/1/2018), Fuchsia OS sempat disebut sebagai OS percobaan proyek open-source Google dan belum jelas nasibnya lantaran belum ada timeline penyelesaian. Bahkan ada juga dugaan bahwa proyek Fuchsia hanyalah proyek "mainan" para pegawai senior Google agar mereka tetap sibuk dan tidak berpindah ke perusahaan kompetitor.
Kemudian untuk menciptakan “JARVIS” ala Google, mereka baru saja menyelenggarakan hajatan besar, dibalut dengan nama Google I/O. Sebuah konferensi pengembang dan unjuk kebolehan produk-produk baru Google. Dalam gelaran tersebut, Google memperkenalkan beberapa produk-produk teranyar ke publik. Google Lens, Google for Jobs, Chip baru untuk Artificial Intelligent, Google Assistant di iOS atau iPhone, peningkatan kemampuan Google Home dan Google Photo, fitur membalas email Gmail, versi beta Android O atau Android Oreo, dan perangkat Virtual Realllity yang terpisah dari ponsel pintar atau komputer akan menjadi bagian Google masa depan. Ajang Google I/O sebuah sarana memperkenalkan konsep baru bagi produk-produk mereka. Konsep baru tersebut adalah menghadirkan kemampuan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan bagi produk-produk Google.
Langkah Google memberikan konsep baru bagi produk-produknya, bisa ditengok setahun ke belakang. CEO Google Sundar Pichai menetapkan visi masa depan perusahaan tersebut yakni “AI first”. Melalui konsep tersebut, Google ingin menjadikan layanan-layanan atau produk-produk yang mereka tawarkan, didukung penuh oleh kekuatan “machine learning” atau komputer super cerdas yang bisa memahami penggunanya. Konsep “AI first” misalnya, bisa ditemui melalui produk yang diperkenalkan Google dalam hajatan Google I/O yakni Google Lens. Google Lens, secara sederhana, adalah semacam aplikasi foto biasa dengan tambahan kemampuan Google Search. Dengan Google Lens, kala seseorang mengarahkan lensa ponsel pintarnya pada setangkai bunga yang sedang dipegang, Google Lens akan memberi tahu segala informasi tentang bunga tersebut. Juga seseorang yang membidik sebuah restoran melalui lensa di ponsel pintar, segala informasi tentang restoran tersebut akan muncul, berikut dengan ulasan para pengunjung yang pernah makan di restoran tersebut, jadwal buka, pilihan menu, dan berbagai informasi terkait lainnya. Ada poster film yang terpampang di jalanan, tinggal mengarahkan lensa ponsel pintar pada poster tersebut, segala hal tentang film di poster tersebut akan dihadirkan oleh Google Lens, mulai dari jadwal pertunjukan, di mana bioskop yang menayangkan, dan informasi relevan lain.
Google Lens, bisa memiliki kemampuan demikian, tak lain adalah buah dari penggunaan Artificial Intelligence pada produk baru Google tersebut. Lensa ponsel pintar menangkap citra sesuatu hal, mengunggahnya pada komputer super canggih, menganalisis dan memadupadankan dengan informasi yang dimiliki Google Search, pengguna bisa disuguhkan dengan informasi tentang sesuatu hal yang tertangkap oleh lensa ponsel pintar. Namun mengandalkan Google Lens barangkali tak akan sesempurna yang diharapkan, misalnya saat informasi mengatakan restoran tersebut tidak enak. Namun soal pengalaman pada restoran pengalaman masing-masing individu. AI, meskipun menghimpun informasi dari pengguna lainnya, jelas hanyalah mesin yang tidak merasakan sensasi rasa pada lidah. Produk lainnya adalah fitur baru yang dihadirkan dalam layanan Gmail. Gmail merupakan produk andalan Google.
Menurut data Statista, per Februari 2016 lalu, produk email tersebut memiliki pengguna aktif yang telah menyentuh angka 1 miliar pengguna di seluruh dunia. Selain Google melakukan penambahan fitur untuk produk tersebut. Dalam fitur baru yang dihadirkan, produk tersebut bisa membalas secara otomatis email yang diterima oleh pengguna. Selain itu ada Smart Reply sebagai kemampuan tambahan bagi Gmail. Smart Reply, memanfaatkan AI untuk membalas email yang diterima. Misalnya saat ada sebuah email yang menanyakan kesediaan kita menghadiri acara tertentu masuk ke Inbox, Smart Reply akan menganalisis jawaban yang cocok dengan email yang diterima tersebut. Lalu, pengguna tinggal memilih jawaban mana yang sekiranya pas untuk membalas email yang ia terima. Sekali klik, urusan membalas email beres.
Ada juga Google for Jobs, layanan baru tersebut memberikan sensasi yang cukup baik kala seseorang mencari informasi tentang pekerjaan. Misalnya, saat seseorang mencari pekerjaan dengan kata kunci “Editor”, ia tidak akan melewatkan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan kata kunci tersebut dan memberikan hasil yang paling relevan bagi si pencari pekerjaan. Ditambahkannya konsep “AI first” pada layanan atau produk Google yang diperkenalkan pada ajang Google I/O jelas bukanlah pekerjaan semalam semata.
Google diketahui memiliki dua perusahaan yang fokus dalam pengembangan AI. Perusahaan ini bernama Google Brain, sebuah perusahaan yang berbasis di Silicon Valley dan DeepMind, perusahaan AI lain yang berlokasi di London. Melalui dua perusahaan milik Google tersebut, Google mengembangkan AI secara lebih lanjut guna bisa menambahkannya pada produk atau layanan buatan mereka. Kesemua produk atau layanan baru yang dihadirkan Google dengan konsep “AI first” tentu memiliki tujuannya tersendiri. Tak lain adalah Google ingin mencengkeram penggunanya lebih erat. Hal ini terkait dengan model bisnis Google yang memperoleh pendapatan utama dari iklan yang mereka tayangkan. Data dari Statista mengungkapkan, pada 2016 Google memperoleh pendapatan US$ 89,46 miliar, dari jumlah ini sebanyak U$ 79,38 miliar berasal dari pendapatan iklan. Itu artinya, secara mayoritas pendapatan Google dihasilkan oleh iklan. Dalam model bisnis demikian, jumlah pengguna adalah keutamaan yang tidak bisa digantikan Namun, Google tak hanya menghadirkan layanan atau produk terbaru dengan konsep “AI first” untuk mencengkeram penggunanya. Google, juga menggunakan cukup banyak cara lain agar para penggunanya termasuk calon pengguna terus menggunakan produk atau layanan Google dalam kehidupan sehari-hari. Di Amerika Serikat, Google melakukan pendekatan yang ramah terhadap dunia pendidikan.
Mereka merilis beberapa layanan dan produk yang bisa dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar. Laptop murah bernama Chromebook, aplikasi Google Classroom, dan Google Doc, merupakan beberapa produk atau layanan Google yang ramah terhadap dunia pendidikan. Hasilnya, sebagaimana dikutip dari The New York Times, lebih dari setengah murid SD dan SMP atau setara dengan 30 juta murid, menggunakan produk atau layanan tersebut guna mendukung proses belajar mereka sehari-hari. Mike Fisher, analis teknologi pendidikan dari Futuresource mengungkapkan, “jika kamu memperoleh seseorang di sistem operasimu (untuk menggunakannya) lebih awal, maka kamu akan mendapatkan loyalitasnya lebih awal, dan (ia) berpotensial seumur hidup.” Dengan mencengkram anak-anak tersebut, Google berharap bisa memperoleh umur yang panjang bagi bisnisnya. Saat anak-anak tersebut dewasa mereka akan tetap menggunakan produk atau layanan Google. Cara-cara ini justru bisa saja merugikan terkait privasi. Bagi pengguna aplikasi pendidikan Google, seorang anak yang sejatinya harus terbebas dari perangkap apa pun, data-data pribadinya, sangat memungkinkan dijaring dan digunakan oleh Google saat mereka sudah dewasa kelak.
Di Indonesia hal yang mirip-mirip juga dilakukan, Google meluncurkan ulang kegiatan bernama Gapura Digital. Kegiatan tersebut, kali pertama diadakan pada 2014. Dalam keterangan resminya, Google mengklaim telah menjangkau 7.000 UKM di 6 kota di Indonesia. Dalam acara tersebut, Google turut memperkenalkan layanan bernama Google Bisnisku. Dalam layanan tersebut, pemilik UKM bisa memanfaatkannya sebagai media berpromosi dan mendapatkan pelanggan melalui internet. Tentu, kegiatan tersebut baik bagi UKM di Indonesia tapi sesungguhnya, kegiatan tersebut justru menguntungkan bagi hidup dan mati Google di masa depan. Dengan merangkul UKM, Google berharap di masa depan, UKM-UKM bisa memanfaatkan layanan atau produk lain dari Google. Misalnya saja Google AdWord sebagai media beriklan UKM-UKM tersebut agar lebih dikenal publik melalui internet. Gapura Digital yang diinisiasi Google bisa juga menyerempet ke persoalan data pribadi. Data-data UKM yang ikut serta acara tersebut, dengan mudah bisa dijadikan basis data bagi Google membangun jejaringnya atas UKM-UKM. Google, si raksasa teknologi, tentu tak ingin riwayat perusahaannya tamat begitu saja di masa kini. Google mulai mencoba memberi pengalaman yang baru, kemampuan yang baru, dan adaptif terhadap berbagai keadaan. Pada saat yang sama Google sedang menyiapkan masa depan bagi bisnisnya.
Jadi, demikian ulasan tentang Google di masa depan yang hampir bisa menciptakan “JARVIS” ala Google. Bahkan Google yang dulunya hanya mesin pencari informasi di internet sekarang sudah bisa memberikan kemudahan bagi kita dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam menggunakan Smartphone hanya menggunakan mulut langsung bisa di buka. Bukan tidak mungkin jika di masa yang akan datang, kita bisa mengontrol rumah kita dari jauh hanya dengan Smartphone kita sama seperti Tony Stark (Iron Man) bisa mengontrol rumahnya hanya dari sebuah kecerdasan buatannya.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/google
https://tirto.id/membaca-masa-depan-google-dengan-google-io-co1h.
https://www.hipwee.com/opini/masa-depan-teknologi-di-dunia-pekerjaan-manusia/
https://sains.kompas.com/read/2017/07/27/210700123/google-ciptakan-kecerdasan-buatan-yang-bisa-prediksikan-masa-depan.
https://tekno.kompas.com/read/2019/01/07/09310097/os-masa-depan-fuchsia-dari-google-bisa-jalankan-aplikasi-android.
https://technologue.id/jarvis-hadir-di-dunia-nyata-ini-buktinya/amp/
Comments
Post a Comment